Kesehatan · Pencemaran Lingkungan · TPA Cipayung

Curhatan Warga TPA Cipayung: Walikota Depok M Idris, kenapa anda dzolim?

Curhatan Warga TPA Cipayung: Walikota Depok M Idris, kenapa anda dzolim?Curahatan warga TPA Cipayung ini sangat beralasan dan masuk akal dan lumrah jika menganggap M Idris sebagai walikota Depok sudah berlaku dzolim kepada masyarakat TPA Cipayung. Semoga M Idris tidak gagal dalam mengambil keputusan dan berkenan mendengar.

Kemarin pada Tanggal 8 Januari 2016, aku dan beberapa kawan-kawan, di antaranya; Bung Whempy, Bung Alfin dan Bung Bayu melakukan investigasi perihal usaha kami untuk membantu masyarakat Kelurahan Pasir Putih, Kecamatan Sawangan, Kota Depok, Provinsi Jawa Barat yang mengeluh lantaran lingkungan hidup mereka selama bertahun-tahun telah tercemar oleh tempat pembuangan sampah cipayung.

Dalam proses investigasi itu, kami di temani oleh beberapa warga, di antaranya; Pak Bambang, Pak Roby beserta kawan-kawannya yang tergabung dalam Forum Peduli Lingkungan Sehat (FPLS) warga Pasir Putih.

Selain berkunjung ke tempat sampah di Cipayung, kami berbincang dengan banyak warga. Mendengar keluhan dan harapan-harapan mereka. Kami melihat wajah yang kian menua dengan keriput yang mulai menggores pada wajah-wajahnya yang lusuh dan lemah tak berdaya.

Tak pelak lagi, kami menyaksikan kondisi di mana warga setempat tiap hari menghirup udara yang tak sehat lantaran tempat tinggal mereka yang hanya berjarak seinci dari Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah di Cipayung, Pasir Putih dan sekitarnya. Apalagi TPA itu kian menjulang bak sebuah gunung raksasa tepat di atas aliran sungai pasanggrahan. Sementara tiang-tiang sutet dengan kokohnya berdiri tepat di tengah-tengah pegunungan sampah itu.

Lalu dari jarak yang kurang lebih hanya sekitar 50 meter, bangunan rumah warga berjejer dengan rapihnya. Pintu-pintu rumah mereka tepat berhadapan langsung dengan pemandangan bak wisata alam nan indahnya, Gunung Sampah Cipayung yang menghiasi kehidupan mereka tiap saat.

Anak-anak sekolah tiap hari mandi dari air yang telah tercemar bertahun-tahun lamanya. Jangan tanya apakah itu sehat, berpenyakit atau tidak. Bahkan baju sekolah mereka saja baunya tak kunjung wanginya. Sebab udara untuk mengeringkannya saja membawa zat-zat negatif yang menempel pada seragam sekolahnya, dan tentu, baunya tak mau lepas walau di cuci dengan deterjen berkali-kali adanya.

Mereka yang berusia lanjut yang seharusnya hidup sehat dengan terpaksa harus tiap hari menghirup segala zat beracun yang merusak sel-sel, darah, jantug bahkan hingga paru-parunya. Lalu generasi yang masih belia yang wajib kita jaga dengan melindungi dan mewujudkan lingkungan bersih, sehat dan layak juga ikut kena imbasnya.

Bukankah mereka adalah generasi masa depan yang seharusnya di pelihara dengan benar, baik, tenteram dan sejahtera segala-galanya dari mulai pendidikan hingga kesehatannya? Garis bawahi kalimat ‘Kesehatan’. Sebab tanpa kesehatan, maka semua yang berkaitan dengan persiapan generasi masa depan hanyalah omong kosong belaka.

Sebab bagaimana mungkin kesehatan itu bisa terwujud. Sedang kami menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bagaimana sisa limbah TPA yang mengandung zat Methanol; zat yang sangat berbahaya itu langsung di buang menuju aliran sungai Pasanggrahan, ingat, secara langsung!

Sisa limbah yang mengandung zat itu bahkan hanya di tampung di dalam satu kolam terbuka dan membiarkan zat beracun tersebut bercampur dengan udara dengan bebasnya. Jangan tanya apakah udara itu lalu di hirup oleh warga di sekitarnya atau tidak.

Katanya baru beberapa hari yang lalu Walikota Depok, bapak Mohammad Idria dan jajarannya berkunjung untuk melihat-lihat TPA tersebut tersebut. Benar saja, sebab ketika kami sampai kesana, rupanya banyak bangunan baru dan renofasi yang telah di lakukan oleh pihak pengelola.

Beberapa gedung, tembok-tembok dan saluran air serta cat-cat dindingnnya masih terlihat baru, mugkin ada juga yang belum kering betul. Mungkin juga semua itu agar terlihat layak dan indah di pandang mata bapak Walikota dan jajarannya. Walaupun di satu sisi membunuh warga di sekitarnya.

Lalu di mana filosofi ‘pemrosesan’ yang harus menjadi landasan utama dalam mengelola TPA tersebut? Ah, aku jadi bertanya, apakah Pemerintah, mungkin juga sebagian besar dari kita, tak pernah peduli dengan semua itu. Semua sampah yang kita hasilkan sendiri tiap harinya?

Kita hanya tahunya membuang, membuang dan membuang. Dan tahukah kau semua itu terjadi di mana? Semua itu terjadi di Cipayung, Pasir Putih, dan sekitarnya, ya Semua itu terjadi di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, Negara Indonesia.

Sementara itu, di ketahui bahwa Pemkot Depok telah mengeluarkan kebijakan mengenai perluasan TPA Cipayung. Dengan dalih ingin membangun buffer zone (daerah penyangga) di sekitar TPA tersebut. Lalu dalam beberapa statement yang di sampaikan oleh bapak Walikota Depok, buffer zone itu sekaligus akan di jadikan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH), dengan berbagai fasilitas semacam joging track, taman bermain bagi anak-anak dan lain sebagainya.

Sungguh sangat keterlaluan niatan dan upaya yang di lakukan oleh Pemkot Depok itu. Dengan membangun logika fikir yang sesat dan menyesatkan itu, lalu mereka kira dengan begitu dapat mengelabui masyarakat Pasir Putih. Sungguh-sungguh semua itu adalah satu kebohongan dan kezaliman terbesar yang telah mereka lakukan.

Bagaimana mungkin mereka dapat mengatakan bahwa buffer zone itu adalah sama dengan RTH? Bagaimana mungkin mereka dapat mengatakan bahwa buffer zoe itu dapat di jadikan sebagai area joging track, taman bermain untuk anak-anak dan lain sebagainya? Sedangkan buffer zone sejatinya adalah ruas wilayah (space) penyanggah suatu TPA tertentu yang sejatinya harus bebas dari segala aktifitas masyarakat.

Sebab buffer zone sejatinya memiliki empat fungsi. Yakni, mencegah air lindi merembes ke lahan warga, mencegah binatang vektor masuk ke permukiman, menyaring debu, serta mencegah kebisingan, dan pencemaran udara. Untuk hal ini, agar lebih jelas para pembaca yang budiman dapat melihat Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 19 Tanun 2012 Tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Sekitar Tempat Pemrosesan Akhir Sampah

Bahkan, kebohongan dan kezaliman yang paling nyata dari semua langkah-langkah Pemkot Depok adalah ketika mereka mengatakan bahwa buffer zone itu dapat di jadikan sebagai taman bermain untuk anak-anak. Apakah mereka ingin membiarkan anak-anak kita, generasi masa depan kota Depok bermain tepat di samping tumpukan sampah yang sudah seperti gunung itu?

Di sampaikan kepada kami bahwa sebenarnya warga pasir putih selama ini telah melakukan upaya penolakan terhadal segala rencana dan usaha perluasan yang ingin di lakukan oleh pihak Pemkot Depok. Karena selama ini warga tidak pernah di berikan bantuan mengenai jaminan kesehatan yang memadai, bahkan selama bertahun-tahun mereka secara langsung telah terkena dampak pencemaran lingkungan oleh segala aktifitas TPA tersebut.

Di beritahukan juga kepada kami, bahwa rupanya ada beberapa pihak dari pemerintah yang melakukan intimidasi kepada warga yang menolak perluasan tersebut. Bahkan, menurut informasi, beberapa warga mulai di berikan iming-iming hinngga ada yang berusaha di sogok dengan sejumlah uang,supaya akhirnya mau menerima rencana perluasan TPA yang ingin di lakukan oleh Pemkot Depok.

Semua yang telah di lakukan oleh pihak pemerintah dengan semua kaki tangannya, sungguh-sungguh telah mencederai rasa kemanusiaan dan keadilan yang seharusnya di jadikan sebagai landasan dan dasar Pemkot Depok salam hal ini bapak Walikota Mohammad Idris dalam menjalakan fungsi dan kewenangannya. Namun sungguh-sungguh damam hal ini beliau telah lalai bahkan zalim terhadap masyarakat Pasir Putih.

Oleh karena itulah maka dengan segala potensi yang kami punya. Dengan pikiran dan tenaga yang seikhlas-ikhlasnya. Kami memberi semangat atas dasar persaudaraan dan solidaritas sebagai warga Kota Depok. Karena kami sadar, bahwa tugas seorang saudara adalah saling membantu di kala saudaranya yang lain sedang menjerit dalam ketertindasan. Apalagi jika penindasan itu di lakukan antara penguasa yang berselingkuh dengan pengusaha.

Maka jangan heran, jika tak lama lagi suara kami akan lebih keras sebagai penyambung lidah rakyat. Bahkan akan kami siapkan barisan perlawanan yang bersaf-saf, yang diisi oleh gabungan antara kaum tua dan muda, untuk hanya satu tujuan, kembalikan kehidupan masyarakat Pasir Putih yang layak dengan lingkuhan hidup yang layak hey Walikota Depok! Hey bapak Mohammad Idris! Namun jika tidak, maka akan kami siapkan perlawanan untukmu!

Advertisements